Mohd Afham & Ain Najwa

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Aisya Syifaa

Lilypie - Personal pictureLilypie Fourth Birthday tickers

Alyaa Zulfa

Lilypie - Personal pictureLilypie Second Birthday tickers

Azizul Hakim

Lilypie - Personal pictureLilypie First Birthday tickers

Sunday, December 28, 2008

Azam Tahun Baru - edited

Di antara azam Awe untuk tahun ni dan tahun-tahun yang mendatang ialah...

Pertama, Awe nak jadi seorang yang lebih fokus dan komited dalam sesuatu perkara. Awe tak nak urusan peribadi bercampur dengan pelajaran dan komitmen-komitmen yang lain. Awe nak cuba naikkan cgpa dan dalam masa yang sama dapat lebih menyumbang pada 'stakeholders'.

Kedua, Awe nak jadi seorang wanita yang lebih cekal, tabah, dan kuat dari segi emosi dan fizikal. Awe nak elakkan merungut dan mengeluh. Kata-kata Tuan Azam sentiasa dalam kepala, "Merungut adalah manifestasi bahawa kita tidak bersyukur kepada Tuhan". Awe akan cuba berfikir secara 'normative' dalam semua perkara. Berfikiran positif, itu paling penting.

Ketiga, Awe nak jadi seorang yang lebih bahagia dan tenang.

Keempat, harapan jauh di sudut hatiku.....tak nak lah tulis kat sini....

Wednesday, December 10, 2008

Sanah Helwah Ya Abi!!


Dalam nak mengejar masa untuk ke LCCT (nak beraya di Tawau) lepas zohor 4hb lalu, Ummi sempat juga curi masa untuk belikan kek untuk menyambut ulang tahun Abah ke-47.

Doa Awe untuk Abah,
Ya Allah,
Kau teguhkan iman Abah,
Kau berikan kesihatan jiwa dan badan kepadanya,
Kau berikan kekuatan kepadanya untuk terus menegakkan agamaMu,
Kau permudahkannya untuk menyebarkan agamaMu,
Kau damaikan hati Abah,
Kau tenangkanlah jiwa Abah,
Kau kurniakanlah rezeki yang halal buat keluarga kami,
Kau jauhkanlah segala macam fitnah daripadanya,
Ya Allah,
kau jadikanlah Abah contoh ikutan terbaik buat kami anak-anaknya
sepertimana Kau jadikan Rasulullah contoh ikutan terbaik buat Ummatnya
Amin...Amin Ya Rabbal 'alamin

SELAMAT ULANG TAHUN ABAH!!
I LOVE YOU ALWAYS!

BNO dan ABC



Sejak dua menjak ni, kalau balik kampung kat Sabak Bernam je, tak sah kalau tak pergi makan ABC tepi pantai. Pantai mana lagi kalau bukan BNO (Bagan Nakhoda Omar) yang terkenal di daerah sabak.Pantai tu bukanlah cantik mana pun sebabnya pantai nelayan. Tapi, ketenangannya yang 'best'. Bila duduk kat situ, tenang jap jiwa ni, lupa jap masalah-masalah kat KL. Yang membuatkan lagi seronok, bila bawa adik-adik, mak (panggilan untuk nenek kesayangan), ngan sedara-sedara lain yang nak ikut.



Petang Jumaat lepas, awe bawa adik-adik yang ramai. Sumbat dalam dua kereta. Kebetulan nak menyambut Raya Haji dan juga sedang cuti sekolah. Meriah lah rumah mak nun. Cuma abah ngan Ummi tak ada. Beraya di Tawau.

Thursday, November 13, 2008

Berjaya Kawal Stress

Hari ini banyak sungguh perkara yang perlu diuruskan dan difikirkan. Entah berapa kali Awe hidupkan enjin, matikan enjin kereta dari satu tempat ke satu tempat. Semua urusan perlu diselesaikan segera. Ini semua gara-gara Tuan Punya Rezki belum mau serahkan duit sebanyak RM5000 kepada kami. Ya Allah, ujian sungguh. Hari ini juga kami perlu bayar duit tiket sebanyak RM11 ribu.

Di saat kerisauan dan tekanan sampai ke kemuncak, air mata awe hampir berderai depan syah, k.dyl n k.nadzifa. Itu lah Awe, simpan semuanya sampai ke satu tahap yang maksimum yang tak mampu lagi dikawal oleh hati. Air mata dah mula mengalir. Sebelum Awe jadi lebih beremosi, Awe terus ke dapur, cuci muka. Istighfar beberapa kali, tarik nafas dalam-dalam........dan alhamdulillah, berjaya mengawal emosi. Awe keluar ke dari dapur dan dapat menjalankan tugas-tugas dengan tenang.

Apa yang lebih membuatkan awe tak henti-henti mengucapkan syukur adalah apabila Adrian, sahabat baik kami, sanggup meminjamkan duitnya sebanyak RM5000 untuk membayar duit tiket kerana kami tak yakin boleh dapat duit daripada pihak pengurusan dalam masa yang sangat suntuk tadi. Alhamdulillah, tiket dapat dibeli tepat pada masanya walaupun awe terpaksa duduk di pejabat Sri Lankan Airlines lebih dua jam kerana ada masalah teknikal. Thanks Ad!!!

Monday, November 10, 2008

Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka vs Karaeng Pattingalloang tentang Lima Perkara

Di zaman pemerintahan Sultan Malikussaid Raja Gowa dengan gelar anumerta Tummenanga ri Papambatuna, tersebutlah dua orang tokoh sejarah yang terkenal yaitu Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka dan Karaeng Pattingalloang. Syaikh Yusuf adalah tokoh berkaliber internasional, dengan predikat ulama dalam kwalitas sufi, ilmuwan penulis puluhan buku, pejuang yang gigih di mana saja ia berada: di Gowa, di Banten, di Ceylon (Srilangka sekarang) dan di Tanjung Pengharapan, negaranya orang Boer (petani emigran Belanda, sekarang Negara Afrika Selatan). Karaeng Pattingalloang adalah Perdana Menteri kerajaan kembar Gowa-Tallo’, negarawan, politikus, ilmuwan, yang publikasi karya ilmiyahnya belumlah ditemukan hingga dewasa ini.

Syahdan, inilah dialog di antara keduanya dalam Hikayat Tuanta Salamaka menurut versi Gowa, sebagaimana dituturkan oleh Allahu Yarham Haji Ahmad Makkarausu’ Amansyah Daeng Ngilau’. Materi dialog itu ada lima perkara: anynyombaya saukang, appakala’biri’ sukkuka gaukang, a’madaka ri bate salapanga, angnginunga ballo’ ri ta’bala’ tubarania, dan pa’botoranga ri pasap-pasaraka.
Maka berkatalah Tuanta Salamaka: “Telah kulihat alamat keruntuhan Butta (negeri) Gowa. Oleh sebab itu, pertama, hentikan dan cegahlah rakyat menyembah berhala (saukang), yang kedua, hentikan menghormati atribut kerajaan (gaukang) secara berlebih-lebihan, yang ketiga, hentikan Bate Salapang bermadat, yang keempat, hentikan pasukan kerajaan minum tuak, dan yang kelima, hentikan perjudian di pasar-pasar.” (bahasa aslinya seperti dituturkan Daeng Ngilau di atas itu).

Maka menjawablah Karaeng Pattingalloang:
“Pertama, susatongi nipamari anynyombaya saukang, susahlah menghentikan rakyat menyembah saukang, sebab melalui saukang itulah wibawa raja ditegakkan, yang kedua, sukarlah juga menghentikan penghormatan gaukang, karena di situlah letaknya kemuliaan sang raja, anjoreng minjo kala’biranna sombaya, yang ketiga, tidaklah gampang Bate Salapang menghentikan bermadat, karena jika demikian takkuleami nagappa nanawa-nawa kabajikanna pa’rasanganga, tidak akan timbul gagasan-gagasan baru mengenai konsep pembangunan, yang keempat, kalau pasukan kerajaan dihentikan minum tuak, lalu kedatangan musuh, inaimo lanisuro a’jjallo’, siapalah yang akan dikerahkan membabat musuh, yang kelima, juga tidak mungkin menutup perjudian di pasar-pasar, karena tenamo nantama baratuwa, tidak ada lagi pajak judi yang masuk dalam perbendaharaan kerajaan, antekammamo lanibajiki pa’rasanganga, lalu bagaimana mungkin menggalakkan pembangunan?”

Setelah dialog selesai, Tuanta Salamaka mengeluarkan pernyataan: “Punna tenamo takammana lakupilari butta Gowa, kalau keputusan kerajaan sudah demikian itu, akan kutinggalkan Butta Gowa. Tamangeai nyawaku anciniki sallang sare-sarenna Butta Gowa. Tak sampai hati saya menyaksikan kelak keruntuhan Butta Gowa.”

La Maddaremmeng, Raja Bone ke-13, menjalankan Syari’at Islam dengan murni dan konsekwen dalam kerajaannya. Sebenarnya La Maddaremmeng ini perlu diangkat dalam sejarah, bahwa ia mendahului gerakan Paderi di Minangkabaw. La Maddaremmeng adalah Pahlawan Islam. Ia memberantas adat kebiasaan yang bertentangan dengan Syari’at Islam, sejalan dengan yang dikemukakan oleh Tuanta Salamaka kepada Karaeng Pattingalloang. Para bangsawan Bone yang tidak setuju dengan kebijaksanaan La Maddaremmeng minta bantuan Kerajaan Gowa, yang mengakibatkan pecah perang Gowa-Bone yang kedua. Bone kalah perang, La Maddaremmeng dan sejumlah rakyatnya ditawan, dikerahkan ke Gowa untuk kerja paksa, membangun benteng pertahanan.

Perang Gowa-Bone ini memang unik dalam sejarah. Pada zaman pemerintahan I Mallikaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka Karaenga Matowaya Sultan Alawddin Awwalu lIslam Tummenanga ri Agamana terjadi perang Gowa-Bone pertama, yang penyebabnya sebaliknya dari perang yang kedua. Yaitu Kerajaan Gowa walaupun tidak memaksakan agama Islam pada Kerajaan Bone yang waktu itu belum Islam, Kerajaan Gowa menghendaki agar Bone menghentikan praktek tradisi yang bertentangan dengan Syari’at Islam.

Demikianlah Kerajaan Gowa kehilangan mutiaranya. Tuanta Salamaka akhirnya meninggalkan Kerajaan Gowa, merantau ke Banten. Menuntut ilmu ke Tanah Suci. Bersama-sama dengan mertuanya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan iparnya, Pangeran Purbaya, berperang melawan Belanda di Banten, di Parahyangan, sampai ke Cirebon. Melanjutkan perjuangan sambil menulis buku di pengasingan di Ceylon dan di Tanjung Pengharapan.

Apa yang diucapkan Tuanta Salamaka sebagai futurelog terbukti dalam sejarah. Arung Palakka, yang walaupun masa remajanya dibina dan dididik oleh Karaeng Pattingalloang, bangkit melawan kerajaan Gowa untuk memerdekakan Bone, mengakhiri kerja paksa itu. Dan selanjutnya dapat kita baca dalam sejarah bahwa apa yang diramalkan oleh Syaikh Yusuf tentang nasib kerajaan Gowa terbukti dalam satu generasi berikutnya pada zaman pemerintahan I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangngape Sultan Hasanuddin Tummenanga ri Balla’ Pangkana, ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Bungaya. Sepeninggal Sultan Hasanuddin pamor Kerajaan Gowa menjadi pudar.

Menurut berita insya Allah Syaikh Yusuf akan diperingati sepanjang tahun 1994 di Negara Afrika Selatan, yang mendapat dukungan kuat dari Nelson Mandela. Kolom ini ditulis untuk ikut sekelumit menyambut tahun kegiatan memperingati Syaikh Yusuf di rantau jauh itu. Adegan dialog itu menunjukkan perbedaan sikap berpikir antara orang berdzikir kemudian baru berpikir, berhadapan dengan orang yang berpikir saja tanpa berdzikir. Syaikh Yusuf, karena berdzikir, ingat kepada Allah dahulu sebelum berpikir, maka pemikirannya dituntun oleh wahyu. Sedangkan Karaeng Pattingalloang hanya berpikir saja tanpa dituntun wahyu, hanya mengandalkan akalnya belaka. Itulah barangkali latar belakangnya mengapa penulis sejarah di kalangan orang barat sangat memujinya.

Firman Allah:
– Alladziena yazkuruna Llaha qiyaman wa qu’udan wa ‘ala junubihim wa yatafakkaruna fie khalqi ssamawati walardhi, rabbana ma khalaqta hadza bathilan subhanaka faqina ‘adzaba nnar (S. Ali ‘Imran 3:190). artinya:
– Yaitu mereka yang dzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, atau duduk, atau berbaring, dan berpikir tentang kejadian (benda-benda) langit dan bumi, kemudian berucap: Ya Maha Pengatur kami, tidaklah Engkau ciptakan semuanya ini dengan percuma, maka peliharalah kami dari azab neraka.

Jadi yadzkuruna berdzikir dahulu baru yatafakkaruna berpikir. WaLlahu a’lamu bishshawab.

Makassar, 5 Desember 1993
[H.Muh.Nur Abdurrahman]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...